Video Porno Mirip Ariel, Luna Maya Dan Cut Tari, Korban Eksploitasi Budaya Narsisme Akibat Kemajuan Teknologi

Budaya narsisme yang melanda peradaban manusia belakangan ini, baik yang terdapat dalam kelompok usia ABG, remaja maupun dewasa, ditengarai tidak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Handphone (HP) dengan segala fiturnya, salah satunya melalui camera built-in, menghadirkan sebuah bukti kian menjamurnya budaya narsisme di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.

Segala aktifitas, baik secara personal maupun yang melibatkan kelompok, tentulah sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilalui begitu saja, terlebih dengan kualitas kamera HP yang kian baik saja dari hari ke hari, dan dengan harga yang kian terjangkau pula.

Bak pisau dapur. Kamera HP saat ini, dapat dianalogikan seperti layaknya pisau dapur. Ditangan siapa pisau dapur itu digunakan, maka akan menentukan cerita berikutnya. Sederhana saja, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang juru masak (koki), maka akan hadir sebuah santapan lezat di meja makan. Namun, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang preman, maka akan hadir sebuah cerita yang bertutur tentang kisah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang preman terhadap seorang korban yang tidak mau menyerahkan harta bendanya.

Jika menilik kasus video porno yang menimpa artis yang diduga mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, yang menurut analisa para pakar direkam menggunakan kamera HP, jelas terlihat bahwa budaya narsisme, juga dibawa-bawa ke dalam urusan ranjang melalui porno aksinya.

Menurut seorang psikolog, dua insan yang sedang terlibat dalam asmara ranjang, kecenderungan pemikirannya akan dikalahkan oleh nafsunya. Jika boleh disamakan, akan seperti seorang preman yang sedang dalam pengaruh alkohol.

Penggunaan kamera HP yang tidak bijak dan tanpa dipikir panjang, membuat pemiliknya akan terjebak dalam ekploitasi budaya narsisme, terlebih manakala sedang melakukan urusan yang berkaitan dengan nafsu ranjangnya. Seperti pepatah, bangkai yang ditutup rapat, akan tercium pula baunya. Begitupun dengan video porno mirip Ariel dan Luna Maya maupun mirip Ariel dan Cut Tari, yang beredar di jagad maya, akhirnya bagaikan bangkai yang sudah tidak ditutup rapat-rapat lagi.

Sebuah file yang meski dibungkus rapih dalam sebuah benda atau barangpun, di jaman yang serba canggih seperti sekarang, tetaplah memiliki kerentanan yang cukup tinggi. Apalagi jika file tersebut berisi porno aksi pribadi, bagaikan seseorang yang sedang berjalan pada sebilah bambu melintasi sungai, mampu menyeberang hingga ke ujung titian atau jatuh ke dasar sungai. Dalam kasus tersebut diatas, tentunya pemiliknya seperti sedang bermain-main dengan harga diri, karir dan masa depan.

Meski juga dalam UU tidak disebutkan, jika untuk konsumsi pribadi tidak akan dijerat hukum, namun siapa yang mengira jika konsumsi pribadi tersebut, akhirnya dapat tersebar dan kemudian dinikmati oleh publik. Maka, hukumpun akan memainkan peranannya.

Akhirnya, jika dapat disimpulkan, kemajuan teknologi saat ini jelaslah melahirkan sebuah budaya baru, yaitu budaya narsisme. Pertanyaannya, apakah saat ini kita sedang menjadi budak narsisme, yang membutakan mata kita dalam melakukan aksis narsisme tersebut, yang mungkin saja justru malah dapat menjadi korban dari narsisme kita sendiri. Hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.(cr)

Be Sociable, Share!

2 comments

  • vincentmark

    wah wah wah…..

    ga disangka yah ternyata gara-gara narsisisme jadi berakhir seperti itu…

    mampir juga yah di vincentmark.wordpress.com

    • Weshh…bisa aja donk! Ya gitulah, gara-gara narsisme yang kebablasan, jadi bikin ribet akhirnya…

      Blognya oke juga, yang penting keep posting dan blogwalking tanpa henti, niscaya traffic rank-nya pasti ngacir…

      Thanks dah mampir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.