Nadiem Makarim Angkat Tukang Ojek Lewat Go-Jek

gojek indonesia nadiem makarim

Kira-kira menurut pengamatan Anda, bisnis apa yang bergerak melesat dan revolusioner di tahun 2015 ini yang dibangun dengan ide murni anak bangsa negeri ini? Pasti bingung, karena ada beberapa bisnis yang sebenarnya telah dikembangkan sejak beberapa tahun lalu, namun baru menemukan sinarnya di tahun ini.

Pernahkah Anda mendengar kata gojek yang tampil dengan tulisan Go-Jek, Gojek, atau Go Jek? Itu semua sama saja. Atau bahkan bukan cuma mendengar, tapi juga Anda pernah menggunakan Go-Jek tersebut? Coba rasakan, sosok atau binatang apakah Go-Jek itu? Hehe…bukan, Go Jek bukan sosok penampakan atau juga bukan binatang. Tapi pasti Anda sudah tahu kan Go Jek itu apa? Nah, kira-kira Anda tahu siapa pendiri Go Jek itu?

 

Apa Itu Go-Jek?

gojek indonesia nadiem makarimSaya memang belum pernah tanya langsung ke CEO-nya, tapi menurut saya, kata Go-Jek memiliki dua makna. Makna yang pertama, merupakan penggabungan kata, dari Go dan Ojek, artinya Go yaitu pergi, atau bisa juga maju, baik dari sisi pelaku di lapangan yaitu para tukang ojek, maupun maju dari sisi bisnisnya lewat perusahaan, dan Ojek yaitu sebuah profesi yang jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ojek adalah sepeda atau sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya. Maka keduanyapun bersimbiosis mutualisme.

Makna yang kedua, Go-Jek mengandung arti, Go yang berarti Jalan, dan Jek yang berarti sapaan akrab kepada setiap orang laki-laki, layaknya Mas, Bung, Bang. Jika disatukan maka maknanya adalah, “Jalan Bang!”.

Hehe…kira-kira begitu makna Go-Jek menurut penelaahan saya, ngaco dan sok tahu memang, tapi saya janji jika nanti sudah dapat info yang sebenarnya tentang apa makna dari Go-Jek, termasuk pemilihan nama itu, saya akan share di blog ini.

Yang pasti Go-Jek itu melibatkan para tukang ojek sebagai driver-nya. Para tukang ojek tersebut, ada yang berasal dari tukang ojek pengkolan, tukang ojek dadakan, atau bahkan ada yang resign dari tempat kerja asalnya dan beralih profesi dengan memilih menjadi tukang ojek di bawah bendera Go Jek Indonesia.

Baca juga: Jack Ma, Si Gaptek Miliarder Pemilik Alibaba.Com

 

Pengalaman Penumpang Inspirasi Go-Jek

Bagi orang yang memiliki rutinitas kerja harian dengan mobilitas tinggi berkeliling Jakarta, berpindah dari satu titik ke titik lainnya, kemudian berpindah lagi ke titik berikutnya, tentu merupakan sebuah rutinitas yang tidak hanya membuat bosan tapi juga lelah, karena pasti akan selalu bergumul dengan kemacetan di Jakarta yang seakan tidak pernah ada habisnya.

Dengan kondisi demikian, jika sebelumnya beraktifitas menggunakan mobil yang nyaman ber-AC pun akan ditinggalkan dan beralih ke kendaraan roda dua yang lebih cepat, ringkas, mudah, murah, dan sangat fleksibel menyesuaikan kondisi, yaitu ojek.

Adalah Nadiem Makarim, salah satu pengguna ojek di Jakarta, yang tidak hanya sekedar menjadi penumpang sekaligus pelanggan, tapi juga mengamati potensi yang dimiliki oleh ojek atas segala kelebihannya di kota Jakarta yang penuh dengan kemacetan.

Dari berbagai tukang ojek yang ditumpanginya, secara umum memiliki keluhan yang sama, yaitu sulitnya mencari penumpang, belum lagi jika harus bersaing dengan para tukang ojek lainnya yang kian hari terus bertambah jumlahnya, mungkin disebabkan tingginya pengangguran saat ini, atau mungkin minimnya lapangan pekerjaan. Sehingga hampir tidak ada cara lain untuk mempertemukan tukang ojek dengan calon penumpangnya, apalagi ojek cenderung pasif, tidak aktif seperti angkot atau angkutan lainnya yang aktif mencari penumpang karena ada rutenya.

Nah, pada awalnya, bisa dibilang profesi sebagai tukang ojek itu sendiri seperti profesi default. Mengapa profesi default? Karena menurut saya, profesi sebagai tukang ojek adalah profesi yang akan dilakoni ketika ada orang yang di PHK misalnya, orang yang belum juga mendapatkan panggilan kerja setelah melamar pekerjaan disana sini, atau juga orang yang ingin menambah penghasilan.

Mengapa demikian? Karena profesi tukang ojek, sangat mudah dijalankan dan tidak membutuhkan modal terlampau besar, hanya bermodalkan motor, helm, dan SIM, tapi SIM pun dibuat jika sudah kena ditilang. Untuk motor, saat ini sudah banyak pihak ketiga yang menyediakan jasa pinjaman atau kredit dengan uang muka yang murah, bahkan bisa hanya Rp 500 ribu saja.

Ojek konvensional juga memiliki kelemahan atau kekurangan dalam hal penentuan tarif. Hal ini tentu tidak menguntungkan disisi penumpangnya. Seperti membeli kucing dalam karung, penumpang ojek tidak tahu harus membayar berapa untuk jarak tempuh yang dilaluinya. Dapat dikatakan penentuan tarifnya suka-suka oleh si tukang ojeknya tanpa adanya basis perhitungan yang fair.

Kelebihan dan kekurangan itulah yang kemudian menginspirasi lahirnya Go-Jek pada sekitar tahun 2011, disertai daya dukung aplikasi Go Jek online berbasis smartphone sehingga bisa diakses oleh siapa saja dari mana saja.

 

Lewat Go-Jek Ojek Semakin Merajalela

Go-Jek hadir dengan momentum yang sangat tepat. Pertama, kemacetan lalu lintas di Jakarta yang masih belum terpecahkan hingga saat ini membuat banyak orang frustasi, dan bahkan banyak yang mengorbankan aspek kenyamanan saat menggunakan kendaraan pribadi dengan beralih menggunakan moda transportasi ojek. Hal ini tidak bicara mobilitas kerja tinggi yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya dengan intensitas tinggi setiap harinya, hanya bergerak dari titik A ke titik B, lalu kembali lagi ke titik A.

Kedua, jika mengamati di sekitar kita, seperti di perumahan, ada pangkalan yang para tukang ojeknya hanya mengisi waktunya dengan bermain handphone, bermain catur, atau bermain kartu, hal tersebut menjadi indikasi rendahnya kesibukan para tukang ojek, cenderung menunggu orderan tanpa pro aktif menjemput pelanggan. Kecuali di jam-jam tertentu, seperti jam pulang kantor, dengan menunggu pun mereka akan kebanjiran order.

Ketiga, tumbuhnya smartphone di Indonesia, disertai pula dengan semakin murahnya paket data untuk mengakses aplikasi online, juga menjadi faktor pendorong tumbuh dengan cepatnya Go-Jek di Indonesia. Karena Go-Jek berbasis online, yang aplikasinya tersedia dan tinggal diunduh, maka tentunya membutuhkan handphone berkategori handphone pintar (smart phone). Paket data pun saat ini sudah sedemikian ketat persaingannya, sehingga konsumen dimanjakan dengan banyaknya pilihan paket data.

Keempat, Go-Jek hadir dengan tarif yang lebih pasti. Tarifnya sudah diperjanjikan diawal, sehingga sudah tidak ada lagi negosiasi. Tarif yang dikenakan pun sudah sangat efisien, bahkan juga diselipkan tarif promo. Konsumen mendapatkan tarif yang efisien, driver gojek pun mendapatkan potensi penghasilan yang besar.

Nah, sampai disini dapat disimpulkan bahwa Go-Jek datang membawa berkah bagi para tukang ojek yang sedari awal memang berprofesi sebagai tukang ojek sungguhan, maupun tukang ojek dadakan, khususnya di seputaran Jakarta. Namun dibalik berkah yang dibawanya, rupanya kehadiran Go-Jek mengancam pihak-pihak yang tidak siap bersaing, sehingga kerap kali ditemukan berita adanya pengeroyokan, intimidasi, hingga nyata-nyata penolakan terhadap Go-Jek dalam bentuk spanduk.

Tetapi bagi pihak-pihak yang siap bersaing di era seperti sekarang ini, kehadiran Go-Jek malah justru memberi inspirasi, dan malah menjadi kompetitor bagi Go-Jek itu sendiri. Kembali lagi, siapa yang siap dialah yang menjadi pemenang di pasar bebas.

Baca juga: Kisah Sukses Herman Yudiono Meraup Ratusan Juta Rupiah Dari Internet

 

Profil Nadiem Makarim

nadiem makarim gojek indonesiaSampai disini, kira-kira masih ada yang tidak mengenal sosok Nadiem Makarim? Masih ada yang belum tahu siapa pendiri Go-Jek?

Ok baik, tidak apa-apa, jadi begini, pendiri Go-Jek adalah sosok bernama Nadiem Makarim, saat ini dia adalah sosok founder sekaligus CEO dari sebuah bisnis baru yang sedang booming di tahun 2015 ini. Nadiem merupakan jebolan dari Harvard Bussiness School, Harvard University, dan meraih gelar Master of Bussiness Administration (MBA).

Nadiem juga pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, tepatnya di Brown University dan mengambil jurusan International Relations. Selama setahun dia masuk program pertukaran pelajar di London School of Economics.

Sebagai salah satu bisnis startup, kabarnya Go-Jek sudah dilirik oleh perusahaan raksasa dunia, dari negeri Paman Sam, yaitu Google. Wow…luar biasa bukan? Bisa dibayangkan seberapa potensialnya Go-Jek jika Google saja sudah melirik.

Sebelum mendirikan Go-Jek pada tahun 2011, Nadiem tercatat pernah ikut mengembangkan Zalora, yaitu salah satu perusahaan e-commerce yang saat ini juga tengah berkibar. Beberapa perusahaan lain yang pernah disambangi oleh Nadiem Makarim, yaitu McKinsey & Co, dan Kartuku.

Profesi tukang ojek telah nyata-nyata diangkat oleh Nadiem, pria kelahiran 4 Juli 1984, anak dari keturunan bapak yang berasal dari Pekalongan dan ibu dari Pasuruan. Kehadirannya cukup menghebohkan khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Go-Jek besutan Nadiem Makarim menjadi sebuah fenomena. Layanan yang dikembangkannya merubah konsep transportasi berbasis ojek konvensional selama ini. Semoga saja, artikel ini memacu orang-orang penuh potensi seperti Nadiem Makarim dengan menciptakan terobosan dan inovasi yang layak ditiru oleh generasi muda Indonesia.[cr]

 

Sumber gambar: cnnindonesia & smeaker

 

Be Sociable, Share!

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.